Selasa, 28 Juli 2020

Menyempitkan Syari’at Islam?


Assalamu’alaikum temen-temen, gimana kabarnya nih. Semoga baik dan selalu mendapat curahan rahmat dan taufiq dari Allah SWT. Temen-temen pembaca, tahu nggak kalau syariat islam itu luas. Makanya islam itu rohmatal lilalamin. Untuk semua manusia di alam ini. Entah itu dari arab, melayu, eropa atau bahkan manusia bulanpun tetap ada syariat islam yang mengatur, namun tidak bermaksud mengekang manusia.


Tapi nih temen-temen pembaca. Ada loh, pemahaman sebagian orang yang menyempitkan syari’at agama islam. Wah gimana tuh ceritanya? Kok bisa jadi sempit si, Emangnya bisa gitu disempitin? Kok kaya celanan aja, disempitin dilonggarin. Nah di artikel ini penulis mengajak pembaca untuk bersama nih memahami syari’at islam yang luas. Baca sampai selesai yak…


Sebelum membahas penyempitan syari’at islam, kita perlu tahu dulu apa itu syariat. Kalau secara bahasa si berasal dari kata syaro’a artinya jalan yang ditempuh. Kalau secara istilah ada nih pendapat salah satu Ulama. Menurut Imam Abu Muhammad Ali bin Hazm dalam kitab Al Ihkam Fi Ushulil Ahkam menjelaskan pengertian syariat. Syari’at adalah jika terdapat teks yang jelas (tidak multitafsir) dari Al Qur’an , teks sunah, teks yang didapat dari perbuatan Nabi SAW, teks yang didapat dari taqrir (persetujuan Nabi SAW), dan ijma’ (kesepakatan) para sahabat. (Ibnu Hazm, Al Ihkam fi Ushulil Ahkam, Beirut, Darul Afaq, 2001 M, juz III, halaman 137)


Gimana temen-temen, sudah bisa dipahamikan? Kalau belum, coba deh cari sendiri di kitab-kitab lain. Atau kalau mau gampang searching aja, hehehehe. Asal dari sumber terpercaya yak. Oh ya, syariat sama fikih itu beda ya. 

Kalau nggak percaya coba buka nih http://islam.nu.or.id/post/read/85858/apa-perbedaan-syariat-islam-dan-fiqih.

Okey yak, lanjut lagi pembahasannya.  Emang gimana penyempitan syari'at islam itu sih? Apa di jahit gitu, ya nggak lah ya. Singkatnya penyempitan syariat islam itu adalah menghukumi sesuatu atas nama  syari’at islam akan tetapi dengan pemahaman yang sempit.

Salah satu contohnya nih, ada loh golongan yang mengharamkan musik. Emang ada dalilnya kalau musik itu haram? Ya emang ada sih, tapi apakah jelas alias tidak multitafsir? Gini nih haditsnya “Akan ada dari umatku suatu kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar dan alat musik” (HR.Bukhori). Nah dari hadits ini, maka disimpulkan bahwa semua musik itu haram didengar. Nggak peduli  siapa yang nyanyi, apa yang dinyanyikan, alat musiknya apa, mau gitar, piano, rebana dll. Intinya kalau lagu ada suara alat musiknya maka haram, titik. Kamu sejutu dengan pendapat seperti itu? Kalau penulis sih nggak lah. Hobi penulis aja salah satunya dengerin musik hehehe. Coba deh bayangin, kalau semua musik itu haram gimana dengan lagunya Maher Zain, Nissa Sabyan dan penyanyi religi lain. Apakah juga haram? No no no, penulis nggak setuju. Kalau temen-temen pembaca?


Syari’at islam itu luas temen-temen, musik yang haram itu ya musik yang membawa pendengarnya kepada kelalaian, lupa kepada Allah. Atau karena lirik lagunya yang tak elok untuk didengar. Misalnya lagu “Buka dikit joss”. Dan yang saat ini ngetren di tik tok “ Aku suka bodimu yang mama muda” dan lain-lain. Baru denger judulnya aja udah membawa pikiran kemana-kemana, apalagi full lirik. Edan nggak.


Kesimpulannya, musik tu ya ada yang halal juga. Misal, lagunya Nissa Sabyan “Deen Assalam” yang pernah menjadi lagu favorit semua kalangan. Bahkan sampai luar negeri. Lagunya Maher zain yang semua lagunya bergenre religi dan masih banyak lagi. Terus gimana kalau liriknya baik, tapi yang nyanyi perempuan sambil joget-joget dengan tubuh semok, bahenol, menol-menol aduhai? Wah kalau itu nggak perlu ditanya, pasti pembaca bisa nyimpulin sendiri yak. Pahami kaidah ini deh, “Apabila ada hal halal dan hal haram bercampur jadi satu, maka haram yang dimenangkan”


Gimana temen-temen pembaca, sudah memahami apa yang penulis maksud dengan menyempitkan syari’at islam? Semoga menambah wawasan yak. Sebenarnya ada banyak lagi selain musik, misal keharaman suara wanita, olahraga yang sunnah, dan lain-lain. 


Mari kita pahami syari’at islam dengan pandangan yang luas, dengan pikiran yang terbuka, denga hati yang bersih. Semoga kita diberi pemahaman dalam agama. Karena barang siapa Allah kehendaki kebaikan makan Allah pahamkan ia dalam urusan agamanya. Sekian dari penulis, semoga bermanfaat. 

Wassalamu’alaikum Wr wb

Minggu, 26 Juli 2020

Antara Kuantitas dan Kualitas

Assalamu’alaikum wr wb

Selamat datang temen-temen pembaca di blog PAKPT IPNU IPPNU Gusdur. Terimakasih sudah menyempatkan waktunya buat membuka blog ini dan syukur-syukur mau membacanya sampai selesai. Semoga saja ada pengaruh baik bagi pikiran teman-teman pembaca semua.


Kali ini kita mau ngomongin tentang “Kuantitas dan Kualitas”. Pasti temen-temen sudah tahu apa itu kuantitas dan kualitas ya. Kalau belum tahu coba searching di Google saja. 


Pernah nggak sih, temen-temen  sebagai anak organisasi berfikir bahwa sebuah organisasi yang mengedepankan kualitas itu akan lebih baik jadinya dibanding dengan organisasi yang mengedepankan kuantitas? Kalau pernah, berarti sama denganku. Bahkan aku pernah berfikir kalau MU alias Perserikatan Muhammadiyah itu lebih baik dibanding dengan NU atau Nahdhotul Ulama’. Kenapa sampai berfikir seperti itu? Karena menurutku buat apa coba, banyak anggota tapi anggotanya kurang aktif. Kan percuma gitu, ngapain merekrut banyak anggota tapi tidak berpengaruh ke organisasi. Lebih baikkan satu atau dua orang, tapi loyalitas, totalitas dan integritasnya tinggi. Bener nggak temen-temen?. Kita juga pasti tahu tentunya, kalau satu amal ikhlas itu jauh lebih baik dibanding 1000 amal tapi tidak ikhlas. Dan hal lain lagi yang nunjukin kalau kualitas memang harus diutamakan.


Tapi temen-temen, ada yang perlu kita tahu tentang kuantitas dan kualitas tadi. Biar pikiran kita nggak berfikir cuma sampai dipemikiran tadi. Disalah satu Stadium General yang ngomongin tentang membuat karya  tulis yang inspiratif, salah satu pembicaranya mengkisahkan sebuah cerita yang membuka pikiranku. Kisahnya seperti ini.


Ada seorang dosen fotografer asal Amerika Serikat yang mengampu sebuah kelas di sebuah Universitas. Si dosen ini membagi mahasiswa kelasnya menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama ditugasi untuk mengumpukan tugas berupa hasil jepretan sebanyak-banyaknya. Artinya kualitas tidak dipertimbangkan. Yang dipertimbangkan adalah jumlah. Semakin banyak foto yang dikumpulkan maka semakin tinggi pula nilai akhirnya. Kita sebut saja kelompok kuantias. Sedangkan kelompok kedua ditugasi untuk mengumpulkan hasil jepretan cukup satu saja namun dengan kualitas yang paling baik. Artinya jumlah foto yang dikumpulkan tidak mempengaruhi nilai akhir. Kelompok ini kita sebut saja kelompok kualitas.


Kuliah berjalan dengan normal, dosen memberikan materi kemudian didiskusikan dan seterusnya. Singkat cerita, satu semesters hampir selesai. Saatnya pengumpulan tugas akhir. Kelompok kuantitas mengumpulkan hasil jepretanya yang jumlahnya sampai ratusan. Sedangkan kelompok kualitas mengumpulkan satu foto dengan kualitas terbaik menurut mereka masing-masing.


Tibalah waktunya untuk penilaian. Si dosen melihat-lihat hasil foto dari para mahasiswanya. Sungguh sangat mengejutkan. Ketika si dosen ini mencoba mencari foto yang kualitasnya paling baik. Justru foto tersebut berada di tumpukan foto kelompok kuantitas. Bukan kelompok kualitas. Padahal harusnya kelompok kualitaslah yang mengumpulkan foto dengan kualitas hasil jepretan paling baik. Tapi ternyata tidak. Kenapa bisa begitu? 


Jadi begini, mahasiswa dari kelompok kuantitas akan mencoba berkali-kali untuk menjepret gambar dari kameranya. Sehingga dari setiap hasil jepretannya itu, ia bisa mengevaluasi hasil fotonya. Dengan begitu ketika ia menjepret gambar lagi, hasilnya akan lebih baik dari sebelumnya. Artinya secara tidak langsung dengan ia banyak menjepret ternyata itu melatih dirinya untuk menjepret dengan kualitas yang selalu meningkat. Meskipun fokusnya dia adalah ke jumlah fotonya alias kuantitasnya bukan kualitas.


Berbeda dengan kelompok kualitas. Kelompok kualitas akan berusaha sekuat tenaga untuk menjepret dengan semua teori yang mereka pelajari di kelas. Namun sedikit jumlah jepretan yang mereka  ambil. Mereka sudah merasa bahwa jepretan-jepretannya adalah jepretan yang terbaik. Karena secara teori jepretan mereka sudah sesuai. Pada akhirnya jutru kelompok kuantitaslah yang memiliki jepretan terbaik. Karena mereka belajar sambil mencoba. Sedangkan kelompok kualitas terlalu banyak berteori namun sedikit berusaha.


Sekarang, kita coba tarik ke pembahasan amal ya. Kita pasti tahu bahwa satu amal ikhlas lebih baik dibanding 1000 amal tapi tidak ikhlas. Kalau kurang yakin, coba deh searching google. Sudah yakin ya. Okey, kita lanjut lagi. Misalnya kita sedang jum’atan, lewat tuh kotak amal didepan kita. Kebetulan disaku baju ada 20 ribu rupiah. Pas mau ambil uangnya, terbesit dihati merasa kurang ikhlas. Pertanyaanya, manakah yang lebih baik? Kita nggak nyinggung sampai ke hal-hal kebutuhan dan lain lain ya. Kita fokus ke ikhlas dan tidak ikhlas aja. Mana yang lebih baik? Amal 20 ribu tapi tidak ikhlas. Atau nggak usah ngamal aja, dari pada ngamal tapi sia-sia?.


Nah, temen-temen dapat kita samakan sebagaimana hasil foto terbaik tadi. Untuk mendapatkan hasil terbaik maka perlu banyak percobaan, tidak cukup satu atau dua kali. Tapi butuh berkali-kali bahkan sampai seratus, kalau perlu seribu amal. Kesimpulannya, untuk memperoleh amal ikhlas itu nggak cukup dengan satu kali amal. Dengan cara kita milih-milih kapan kita bisa ikhlas. Tapi kita perlu berbkali-kali beramal sampai akhirnya salah satu dari amalan kita itu ada yang terhitung ikhlas. Makanya ada perintah untuk tidak meremehkan amal sekecil apapun. Wa mayya’mal mitsqoola dzarrotin khoiroyyaroh. Barang siapa beramal maski sekecil biji dzarroh maka ia akan melihat balasannya.


Dari kisah tadi dan gambaran tentang amal barusan. Mulailah kebuka pikiranku bahwa kuantitas tidak bisa diremehkan begitu saja. Dengan begitu pemikiran bahwa MU lebih baik dari NU karena NU mengedepankan kuantitas telah terevisi. Kemungkinan besar dari anggota NU yang begitu banyaknya akan mucul bibit-bibit yang unggulnya melebihi bibit dari MU. Kesimpulan terkahirnya, antara kuantitas maupun kualitas jangan ada yang dikesampingkan. Sekian.


Wassalamu’alaikum wr wb

Selamat belajar berjuang bertaqwa




Penulis : Muhammad Misbachul Munir 


Kamis, 23 Juli 2020

Cari Ilmu Itu ya Ada Ilmunya



Assalamu’alaikum wr wb

Halo teman-teman.


Mendapatkan ilmu itu sebuah kenikmatan yang luar biasa teman-teman. Setuju nggak? Kalau nggak, coba deh aku tanya, mau nggak jadi orang goblok? Pasti nggak mau kan ya. Dengan memiliki ilmu seseorang bisa menjalani kehidupannya dengan baik. Mengerjakan tugas dan kewajiban dengan lancar. Segala kendala dan permasalahan dapat dicarikan solusi. Bahkan ada sebuah ungkapan al ilmu zainun li ahlihi, Ilmu itu menjadi hiasan bagi pemiliknya. Pasti bisa bedain kan mana orang berilmu dan mana yang tidak. Tentu lebih mulia orang yang berilmu bukan?.

Bahkan islam mewajibkan semua pemeluknya untuk mencari ilmu, iyakan? Itu menunjukan bahwa islam itu ingin semua manusia itu mulia. Tinggal kitanya saja yang mau nggak mulia. Kalau mau ya tentu harus mencari ilmu.

Tapi, apakah semua pencarian pasti menemukan apa yang dicari? Tentu tidak, tidaak sedikit yang mencarinya dengan berbagai cara namun tidak ketemu hasilnya. Atau ketemu hasilnya tapi hanya sedikit saja. Ada pula yang berhasil mendapatkan banyak ilmu tapi tidak manfaat. Benar bukan?

Kalau kata Syech Azzarnuji dalam kitabnya Ta’lim Muta’allim menjelaskan, orang yang salah jalan alias tersesat maka tidak akan sampai kepada apa yang menjadi tujuan. Begitu juga orang yang mencari ilmu tapi tidak tahu caranya , maka hasilnya tidak sesuai keinginan.

Nah, perlu banget nih, kita mengaji kitab Ta’lim Muta’allim karya Syech Azzarnuji. Kenapa? Ya karena di kitab inilah cara mencari ilmu itu dijelaskan. . Biar ilmu yang kita cari bisa kita dapat dan manfaat. Bahkan beliau memberi banyak tips biar mencari ilmunya tepat sasaran dari pengalam beliau sendiri dan dari guru-gurunya

 Oh ya, ngaji ke Kyai atau Ustadz langsung itu dianjurkan banget. Tapi kan tidak semua diberi kesempatan untuk berjumpa dengan mereka. Maka dari itu, bisa nih sebagai salah satu jalan buat belajar kitab karya Syech Azzarnuji. 


Link link dibawah ini beupa kumpulan ngaji ta’lim bersama KH. MNurul Huda, salah seorang Kyai di Demak yang mengasuh Pondok Pesantren At Taslim. Selamat mengaji.

  1. http://youtu.be/mEH8_3Ps_Wo

  2. http://youtu.be/23TOeMhbJG8

  3. http://youtu.be/AN_MpYVcCc8

  4. http://youtu.be/3X0S9AXZkkg

  5. http://youtu.be/aTrL024wjnw

  6. http://youtu.be/VwPy0usm6Oc

  7. http://youtu.be/944vBakMrsc

  8. http://youtu.be/GeE6-8FsGDs

  9. http://youtu.be/E10jnyYDDNo

  10. http://youtu.be/z-MXdcCPwHY

  11. http://youtu.be/brD_ATpPVHc

  12. http://youtu.be/8kHajDCU6z0

  13. http://youtu.be/iCq1zJwwmFc

  14. http://youtu.be/nSSNh4az5EY

  15. http://youtu.be/MH_kxiThLzc

  16. http://youtu.be/M9a51Jlal20



Disarankan kalau mengaji yang runtut ya, sekian. Semoga bermanfaat.

Wassalamualaikum wr wb



Senin, 20 Juli 2020

Awal Mula IPNU IPPNU di PGSD UNNES hingga Sekarang



Berawal dari para mahasiswa biasa yang kuliah di jurusan PGSD UNNES. Mereka bergabung dengan PKPT IPNU IPPNU UNNES, yaitu kepengurusan IPNU IPPNU yang ada diperguruan tinggi Universitas Negeri Semarang. Terbentuk sejak tahun 2001. Mereka aktif di departemen masing-masing, salah satunya Kaderisasi, yaitu departemen yang mengurusi pengkaderan. Suatu inisiatif muncul untuk membuat  perhimpunan yang serupa di PGSD, agar kader IPNU IPPNU dari jurusan PGSD bisa berjuang di lingkungan kuliahnya sendiri. Tidak mondar-mandir dari kampus PGSD ke Pusat. Karena jarak antara kampus PGSD dengan kampus UNNES pusat cukup jauh. Kampus PGSD ada di Ngaliyan sedangkan kampus pusat ada di Gunung Pati.


Inisiatif tersebutpun diusulkan dalam forum dan akhirnya disetujui. Maka kemudian terbentuklah AKPT Gusdur atau Anak Komisariat Perguruan Tinggi Abdurrahman Wahid. Waktu itu masih sekedar perkumpulan mahasiswa NU yang ingin melestarikan amalan-amalan khas warga Nahdliyin, seperti tahlil, maulid albarzanji, dll. Meski hanya sekedar perkumpulan, namun sudah memiliki koordinator tetap. Waktu itu koordinator pertamanya adalah Rekan Ari Ramdani dan Rekanita Dwi Lestari. Karena sifatnya masih menganak ke PKPT UNNES, maka AD/ART dan kegiatan-kegiatanya masih bergantung keputusan PKPT. 


Baru kemudian, pada tahun 2017. Mulailah dibentuk kepengurusan semi resmi yang terdiri dari ketua dan departemen-departemennya. Waktu itu terpilihlah Rekanita Iswatun Hasanah sebagai Ketua AKPT IPPNU Gusdur. Sedangkan ketua AKPT IPNU Gusdur masih tetap dipegang Rekan Ari Ramdani. Pada periode ini mulai dibentuk program kerja secara mandiri. Mulai dari pengenalan IPNU IPPNU ke mahasiswa di PGSD secara umum, kegiatan mengaji kitab kuning dll. Bisa kita lihat poster-poster kegiatan periode ini di akun instagramnya yaitu @ipnuippnu_pgsdunnes1.


Ditahun 2018, tepatnya pada tanggal 21-24 desember bertempat di kota yang terdapat Makam Sunan Gunung Jati, yaitu Cirebon. Dilaksanakanlah Kongres IPNU IPPNU XIX. Pada kongres tersebut dihasilkan keputusan bahwa PAKPT atau Pimpinan Anak Komisariat dapat berdiri di perguruan tinggi. Namun yang disetujui secara resmi baru PAKPT IPPNU. Sedangkan PAKPT IPNU belum resmi tercantum dalam AD/ART IPNU IPPNU. Meski begitu, di perguruan tinggi UNNES tetap mendirikan PAKPT IPPNU dan IPNU. Sehingga terbentuklah tiga PAKPT, yaitu PAKPT IPNU IPPNU Hasyim Asy’ari, PAKPT IPNU IPPNU Wahab Hasbullah dan terakhir PAKPT IPNU IPPNU Abdurrahman Wahid. PAKPT Abdurrahman Wahid inilah yang berdiri di PGSD. Menjutkan nama AKPT  Gusdur.


Diperiode berikutnya, yaitu tahun 2018-2019 maka diresmikanlah PAKPT IPNU IPPNU Abdurrahman Wahid berdiri di PGSD. Dengan diadakannya RAAK (Rapat Anggota Anak Komisariat) pada tahun 2019 yang dihadiri langsung oleh dosen-dosen NU, salah satunya adalah Kepala Jurusan PGSD sendiri, yaitu Bapak Isa Ansori. Acara berjalan lancar kemudian dilanjutkan pembahsan AD/ART untuk satu tahun kepengurusan kedepan. 


Pada peirode ini terpilihlah Rekan Maulana asal Kendal sebagai ketua PAKPT IPNU Gusdur dan Rekanita Nafsiatul Izzah asal Rembang. Pada periode ini pula banyak kader yang bergabung ke tubuh kepengurusan PAKPT IPNU IPPNU Abdurrahman Wahid. Sehingga program-program kegiatan semakin gencar diadakan sehingga semakin meluas dan dikenal oleh para mahasiswa dan dosen. 


Kepengurusanpun berlanjut dengan diadakanya RAAK yang kedua pata Tahun 2020. Sama seperti RAAK yang pertama, RAAK yang kedua ini dihadiri oleh para dosen NU terutama Kajur PGSD dan pembina Rohis yaitu KH Busyairi harits yang sekaligus pengasuh Kanzus Sholawat II Semarang. Pada RAAK ke 2 tersebut, terpilihlah Rekan Muhamad Misbachul Munir asal Batang dan Rekanita Yusrizki Wijayani yang juga sama-sama asal Batang sebagai ketua PAKPT IPNU IPPNU Abdurrahman Wahid PGSD FIP UNNES. Melanjutkan roda organisasi untuk melestarikan amalan-amalan Islam Ahlussunnah Waljama’ah ala NU dilingkungan PGSD UNNES.


Dengan ditulisnya sejarah singkat berdirinya PAKPT IPNU IPPNU Abdurrahman Wahid ini, harapannya bisa menginspirasi kader-kader IPNU IPPNU dimanapun berada. Selain itu juga semoga dibaca oleh para kader penerus PAKPT Gusdur, sehingga menambah ghiroh kesemangatan untuk belajar, berjuang di PAKPT Gusdur tercinta. Hingga mendapat predikat taqwa di sisi Allah SWT. Demikian tulisan sejarah ini, masih banyak yang belum terungkap sejarah awal berdirinya PAKPT. Semoga saja kedepannya kami bisa menggali lebih dalam, menanyakan kepqda para kader yang menjadi pelaku sejarah.  


Penulis :

Tim Jurnalistik




Sabtu, 18 Juli 2020

Menulis Bukan Sunah Rosulullah?

Menulis Bukan Sunah Rosul? 

Halo temen-temen….

Assalamualaikum….

Pasti tahu dong salah satu sifat nabi kita tercinta Rosulullah Muhammad SAW. Eits… tapi bukan empat sifat wajib bagi rosul lo ya. Ini sifat yang khusus dimiliki Rosulullah. Itu setahuku si. Jadi Rosulullah Muhammad SAW itu Allah sifati dengan sifat Ummi. Artinya tak bisa baca tulis. Pernah dengar juga kalau Ummi itu sifat keibuan. Yang mana sifat ibu-ibu itu tak bisa baca tulis. Tapi entahlah, perlu baca tulisan tentang itu lagi. Okey, cukup dulu mbahas arti Ummi. 

Jadi kesimpulannya, apakah berarti tidak bisa membaca dan menulis itu sunnah Rosulullah? Kalau ada yang jawab iya. Goblok yakin. (Sorry, bahasanya kasar). Lawong Allah saja perintahkan manusia untuk Iqro’ (red:bacalah) dan Roulullah saja memerintahkan kita Utlubul ilma (red: mencari ilmu). Dan salah satu jalan  mencari ilmu itu ya membaca.

Terus gimana dengan menulis? Nah ini nih yang mau dibahas. Rosulullah memang tidak bisa menulis. Tapi beliau tidak melarang untuk menulis. Bahkan beliau punya asisten untuk menuliskan sesuatu, salah satunya ayat Qur’an dan salah duanya surat-surat ajakan masuk islam kepada para pembesar kerajaan. Asisten utamanya (ini hanya pandanganku alias opini) adalah Sahabat Ali Karomallahu wajhah. Beliaulah babul ilmi (Red:pintunya ilmu). Rosulullah pernah bersabda “Ana madinatul ilmi, wa Ali Baabuha” artinya Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya. Gimana setuju nggak kalau Shabat Ali asisten utama rosulullah? Hehehe becanda.

Okey, lanjut yak…

Sekarang dari salah satu kitab monumental bagi santri. Apa itu? Kitab Ta’lim Muta’alim karya Syekh Azzarnuji. Gimana pandangan beliau tentang menulis? Kali ini perlu buka kitabnya nih, walau terjemahan , tak apa yak. Begini kata beliau 

“Dan sayogyanya, bagi seorang penutut ilmu itu mencatat hasil pengajian dari gurunya setelah ia menghafalnya, kemudian mengulang-ulanginya berkali-kali karena hal itu sangat bermanfaat” 

Gimana, jelaskan kalau menulis itu manfaatnya bagus banget. Kalau kata bijak mah gini “gajah mati meninggalkan gading, manusia wafat meninggalkan karya”. Mantab kan.

Cukup mbahas seiusnya nih. Lanjut bahasan yang ngalir. Gini ya. Niatku nulis ini adalah biar temen-temen termotivasi buat nulis. Bener dahh, nulis tu penting dan ada manfaatnya.  Aku contohin nih, coba bayangin Qur’an tuh nggak ditulis? Whats happen? Iyah, betul kali. Bisa-bisa Qur’an terlupakan gaes. Tapi kan ada hafidz hafidzoh? Lah, para hafidz hafidzohkan hafalannya kan dari tulisan bro. Iyakan. La iya.

Contoh lain nih, misalkan ilmu-ilmu itu nggak ditulis dan dibukukan? Apa yang terjadi pemirsa. Iyak, mau belajar apa kita disekolah?. Nah , sekarang kalau buat organisasi tuh apa manfaatnya? Dengan menulis, karya tulis kita akan dibaca oleh penerus kita dimasa depan temen-temen. Dan kemungkinan terbesar, kita bisa menginspiratif penerus kita itu. Khoirunnas ‘anfa’uhum linnas. 

Tak masalah ada yang baca apa nggak. Yang penting adalah ada tulisan yang kita buat dulu. Okey, sekalian mau shering ah,,,. Jadi gini, aku tuh dari dulu pengen bisa nulis. Aku kagum dah sama orang-orang yang udah punya karya tulis. Misal cerpen, berita, novel, puisi dll. Jujur ya, aku pernah berkali-kali dilatih buat jadi jurnalistik. Yang tugasnya cari berita, menulisnya, terus melaporkannya. Halah, kayaknya ribet banget menurutku. Sampai sekarang belum juga termotivasi buat nulis berita. Belum nemu motivasi yang tepat.

Lanjut, lama tak mengaplikasikan pelatihan-pelatihan jurnalistik dulu, ya kahirnya nggak nulis apa-apa. Kagak ada dorongan blas. Paling kadang-kadang tiba-tiba pingin nulis motivasi, eh paling sehalaman stop. Dan cuma nganggur di laptop. Sampai akhirnya, aku dipertemukan dengan orang-orang yang hobi baca dan nulis. Wih, mantab dah. Baru-baru ini si. Akhirya aku coba-coba nulis lagi deh. Kebanyakan ya opini kaya gini. Ngungkapin isi pikiranku yang biasanya numpuk banyak hal tapi susah dikeluarin. 

Buat temen temen semua yang pingin bermanfaat bagi banyak orang, dan punya keahlian menulis. Atau minimal udah punya keinginan bisa nulis. Ayo deh, segara tulis apapun yang kamu suka. Jangan minder. Please jangan terlalu rendah diri.. Udah itu dulu yak. Selamat menulis. 

Wassalamu’alaikum….

Salam pelajar…..

 

Penulis : M.Misbachul Munir

 

 

 

 

 

Sepenting Apa Diskusi Itu?

Sepenting Apa Diskusi Itu? 

Pernahkah kita berdebat? Apa bedanya debat dengan diskusi. Perlu kita tahu teman-taman, bahwa diskusi bukanlah debat. Dan debat bukan pula diskusi. Maaf saja aku akan sampaikan pendapatku sendiri tentang pengertian diskusi dan debat dari sudut pandangku. Bukan dari sumber yang valid. Pertama, apa itu diskusi?. Menurutku diskusi itu dialog untuk saling bertukar pendapat, mencari suatu kesepakatan/solusi yang diinginkan bersama-sama. Artinya, disini tiap orang punya kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya tanpa ada ancaman disalahkan dari pihak lain. Intinya, tiap peserta diskusi bersama-sama mencari kebenaran yang disepakati bersama.

Sekarang ke pengertian debat. Lagi-lagi menurutku ya. Debat itu sebuah dialog untuk mencari kemenangan sepihak alias berusaha agar pendapatnya di anggap yang paling benar dan menyalahkan pihak lain. Bisa kita tebak, apa yang akan terjadi jika debat memanas. Makanya debat itu dialarang oleh agama. Tapi kenapa kalau pemilu malah diadakan debat ya. Apa manfaatnya? Apa nggak malah memecah belah kedua belah pihak?. Entahlah. 

Akhir-akhir ini aku sering meremehkan sebuah acara diskusi online. Meski sebenarnya aku hobi diskusi, tapi cuma tema tertentu saja dan teman diskusinya tidak banyak-banyak amat.  Beda waktu awal kuliah. Kalau dulu awal kuliah jika ada suatu acara apapun pasti berusaha ikut. Sampai akhirnya waktunya tabrak-tabrakan tidak karuan. Tapi akhirnya, tadi aku baru sadar. Betapa pentingnya sebuah diskusi.

Jadi gini, problemku sebagai ketua sebuah organisasi adalah ketika anggotanya seperti wayang. Iya, wayang yang mana harus digerakkan sesuai gerakan tangan dalangnya. Padahal aku tak mau jadi otoriter. Itu masih mending kalau bisa digerakkan. Tidak sedikit yang diam membisu. La yamutu wala yahya. Dibilang hidup kok kaya mati. Dibilang mati kok masih hidup. Dia ada tapi seperti tak ada. Tidak adanya seperti pas ada. Sama aja.

Dengan masalah organisasi yang seperti itu, akhirnya ya program kerja tak muncul, sekali muncul dicul (dilepas). maksudnya nggak dipertanggung jawabkan. Sudahlah, tak penting. Lanjut saja. Gini, aku gabung diebuah grub organsisi mahasiswa yang bersifat daerah. Aku belum pernah kumpul, dan belum juga tahu kepengurusannya. Dan digrub itupun tak banyak yang merespon kalau ada pesan. Kesimpulannya , itu grub tak jauh beda dengan grub organisasi yang tak pimpin. Tapi, anehnya setiap ada inisiatif sebuah kegiatan, tapatnya kegiatan diskusi online. Meski yang respon cuma satu, dua orang. Acara tetap bisa jalan bro. Dan peserta nya tidak sedikit.

Aku nyimpulin gini, ternyata untuk mengaktifkan organisasi itu tak harus semua anggotanya kader militan yang totalitas, loyalitas dan integritas. Tapi cukup beberapa saja, bahkan sendiripun mungkin tetap bisa. Tapi kalau sendiri ya bukan organisasi namanya. Dengan kesimpulanku yang seperti ini, aku mulai positive thinking dengan kondisi organisasi yang tak pimpin. Tapi ya harus tetap usaha membuat aktif yang lainlah. Nggak pasrah begitu aja. Aku tak mau ambil pusing dengan ketidak aktifan para anggotaku. Lagi pula, mereka bukan anak kecil lagi. Tentu mereka sudah berfikir, mana yang perlu diutamakan dan mana yang perlu dikesampingkan. Anggota yang kurang aktif bukan berarti orang yang malas, bisa saja ia loyal dan militan jika di organisasi lain. Iyakan?

Okelah, intinya kegiatan diskusi online itu cukup dengan sedikit panitia. Mungkin karena tak ada snek hehehehe, iyakan. Dan dengan kegiatan seperti itu, organisasi yang tak pimpin insyaallah jadi aktif. Nah, karena awalnya aku agak kurang tertarik dengan diskusi online. Kenapa? Karena kesannya diskusi online tu kaya formalitas aja. Pembahasan yang nggak penting. Paling jawabannya cuma teori. Begitulah pikiranku , awalnya.

Tapi, akhirnya aku coba cari manfaatnya. Dan alhamdulillah ketemu. Jadi gini temen-temen, diskusi itu kaya musyawarah. Musyawarah itu sunnah rosul lho. Percaya nggak? Rosulullah itu bermusyawarah dengan para sahabat tentang perkara yang belum diturunkan wahyu tentang perkara tersebut. Misal saat perang, Alqur’an nggak jelasin strategi perang melawan orang musyrik itu gimana. Akhirnya Rosulullah bermusyawarah alias berdiskusi dengan sahabat yang ahli strategi perang. Sunahkan diskusi itu. Oke jadi semangat nih buat ngadain diskusi.

Itu belum njelasin manfaat ya , itu baru njelasin kalau diskusi itu juga sunnah. Baiklah, manfaatnya gini temen-temen. Sering kita punya masalah yang tak kunjung nemu jawabannya. Sudah ditanyakan kemana-mana tapi tetap tidak ketemu. Betulkan?. Sekarang masalah lainnya. Kita tidak akan mempelajari sesuatu kalau tidak ada kepentingan dengan sesuatu itu, betul tidak? Aku contohin nih, misal kita sebagai mahasiswa yang sekarang hanya dirumah, palingan sibuk dengan kegiatan sehari-hari yang kurang produktif, makan, tidur, nonton film, dll. Mungkinkah saat seperti itu kita mau baca buku cara membuat berita yang baik? Mana mungkin, iyakan. Kecuali kita memang punya hobi nulis berita.

Nah dengan diajak berdiskusi, maka otak kita dipaksa untuk berfikir. Misal tiba-tiba kamu diminta jadi narasumber atau pemantik diskusi dengan tema menggaet kader diera pandemi. Maka, pasti kamu akan berusaha berfikir sebisa mungkin mencari materi untuk diskusi tersebut, iyakan. Selain mengajak si narasumber berfikir mencari atau membuat materi. Nantinya juga akan mengajak orang lain yaitu para peserta untuk ikut juga berfikir, setelah mendengar penyampaian materi dari narasumber.

Okey, Itu ya. Manfaat pertama. Selanjutnya manfaat yang tak kalah penting. Yaitu didalam forum diskusi pastilah pesertanya tidak sama pola pikirnya. Artinya dalam menyimpulkan sesuatu akan berbeda. Sehingga jika ada suatu masalah maka penentuan solusi akan berbeda. Dengan begitu masalah yang kita punya namun solusinya belum ada yang pas, bisa jadi diforum itulsh ada salah satu pendapat yang merupakan solusi yang tepat. Benar buka? Itu dia manfaat diskusi untuk mencari solusi.

Harapanku, sebuah diskusi tidak berhenti hanya disebuah jawaban teori dari narasumber. Namun ada action dari jawaban tersebut. Tapi itu nomor dua saja. Yang penting organisasiku ada detak jantung kegiatan yang semoga saja membawa perubahan ke yang lain. Khusunya yang belum aktif agar aktif. Khirunnas anfa’uhum linnas


Penulis : M.Misbachul Munir


 

 

 

Macam-macam Mahasiswa

 Sebagai golongan manusia, mahasiswa memiliki karakter yang berbeda-beda. Mereka tumbuh dilingkungan berbeda, mereka belajar dilingkungan be...