Sepenting Apa Diskusi Itu?
Pernahkah kita berdebat? Apa bedanya debat dengan diskusi. Perlu kita tahu teman-taman, bahwa diskusi bukanlah debat. Dan debat bukan pula diskusi. Maaf saja aku akan sampaikan pendapatku sendiri tentang pengertian diskusi dan debat dari sudut pandangku. Bukan dari sumber yang valid. Pertama, apa itu diskusi?. Menurutku diskusi itu dialog untuk saling bertukar pendapat, mencari suatu kesepakatan/solusi yang diinginkan bersama-sama. Artinya, disini tiap orang punya kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya tanpa ada ancaman disalahkan dari pihak lain. Intinya, tiap peserta diskusi bersama-sama mencari kebenaran yang disepakati bersama.
Sekarang ke pengertian debat. Lagi-lagi menurutku ya. Debat itu sebuah dialog untuk mencari kemenangan sepihak alias berusaha agar pendapatnya di anggap yang paling benar dan menyalahkan pihak lain. Bisa kita tebak, apa yang akan terjadi jika debat memanas. Makanya debat itu dialarang oleh agama. Tapi kenapa kalau pemilu malah diadakan debat ya. Apa manfaatnya? Apa nggak malah memecah belah kedua belah pihak?. Entahlah.
Akhir-akhir ini aku sering meremehkan sebuah acara diskusi online. Meski sebenarnya aku hobi diskusi, tapi cuma tema tertentu saja dan teman diskusinya tidak banyak-banyak amat. Beda waktu awal kuliah. Kalau dulu awal kuliah jika ada suatu acara apapun pasti berusaha ikut. Sampai akhirnya waktunya tabrak-tabrakan tidak karuan. Tapi akhirnya, tadi aku baru sadar. Betapa pentingnya sebuah diskusi.
Jadi gini, problemku sebagai ketua sebuah organisasi adalah ketika anggotanya seperti wayang. Iya, wayang yang mana harus digerakkan sesuai gerakan tangan dalangnya. Padahal aku tak mau jadi otoriter. Itu masih mending kalau bisa digerakkan. Tidak sedikit yang diam membisu. La yamutu wala yahya. Dibilang hidup kok kaya mati. Dibilang mati kok masih hidup. Dia ada tapi seperti tak ada. Tidak adanya seperti pas ada. Sama aja.
Dengan masalah organisasi yang seperti itu, akhirnya ya program kerja tak muncul, sekali muncul dicul (dilepas). maksudnya nggak dipertanggung jawabkan. Sudahlah, tak penting. Lanjut saja. Gini, aku gabung diebuah grub organsisi mahasiswa yang bersifat daerah. Aku belum pernah kumpul, dan belum juga tahu kepengurusannya. Dan digrub itupun tak banyak yang merespon kalau ada pesan. Kesimpulannya , itu grub tak jauh beda dengan grub organisasi yang tak pimpin. Tapi, anehnya setiap ada inisiatif sebuah kegiatan, tapatnya kegiatan diskusi online. Meski yang respon cuma satu, dua orang. Acara tetap bisa jalan bro. Dan peserta nya tidak sedikit.
Aku nyimpulin gini, ternyata untuk mengaktifkan organisasi itu tak harus semua anggotanya kader militan yang totalitas, loyalitas dan integritas. Tapi cukup beberapa saja, bahkan sendiripun mungkin tetap bisa. Tapi kalau sendiri ya bukan organisasi namanya. Dengan kesimpulanku yang seperti ini, aku mulai positive thinking dengan kondisi organisasi yang tak pimpin. Tapi ya harus tetap usaha membuat aktif yang lainlah. Nggak pasrah begitu aja. Aku tak mau ambil pusing dengan ketidak aktifan para anggotaku. Lagi pula, mereka bukan anak kecil lagi. Tentu mereka sudah berfikir, mana yang perlu diutamakan dan mana yang perlu dikesampingkan. Anggota yang kurang aktif bukan berarti orang yang malas, bisa saja ia loyal dan militan jika di organisasi lain. Iyakan?
Okelah, intinya kegiatan diskusi online itu cukup dengan sedikit panitia. Mungkin karena tak ada snek hehehehe, iyakan. Dan dengan kegiatan seperti itu, organisasi yang tak pimpin insyaallah jadi aktif. Nah, karena awalnya aku agak kurang tertarik dengan diskusi online. Kenapa? Karena kesannya diskusi online tu kaya formalitas aja. Pembahasan yang nggak penting. Paling jawabannya cuma teori. Begitulah pikiranku , awalnya.
Tapi, akhirnya aku coba cari manfaatnya. Dan alhamdulillah ketemu. Jadi gini temen-temen, diskusi itu kaya musyawarah. Musyawarah itu sunnah rosul lho. Percaya nggak? Rosulullah itu bermusyawarah dengan para sahabat tentang perkara yang belum diturunkan wahyu tentang perkara tersebut. Misal saat perang, Alqur’an nggak jelasin strategi perang melawan orang musyrik itu gimana. Akhirnya Rosulullah bermusyawarah alias berdiskusi dengan sahabat yang ahli strategi perang. Sunahkan diskusi itu. Oke jadi semangat nih buat ngadain diskusi.
Itu belum njelasin manfaat ya , itu baru njelasin kalau diskusi itu juga sunnah. Baiklah, manfaatnya gini temen-temen. Sering kita punya masalah yang tak kunjung nemu jawabannya. Sudah ditanyakan kemana-mana tapi tetap tidak ketemu. Betulkan?. Sekarang masalah lainnya. Kita tidak akan mempelajari sesuatu kalau tidak ada kepentingan dengan sesuatu itu, betul tidak? Aku contohin nih, misal kita sebagai mahasiswa yang sekarang hanya dirumah, palingan sibuk dengan kegiatan sehari-hari yang kurang produktif, makan, tidur, nonton film, dll. Mungkinkah saat seperti itu kita mau baca buku cara membuat berita yang baik? Mana mungkin, iyakan. Kecuali kita memang punya hobi nulis berita.
Nah dengan diajak berdiskusi, maka otak kita dipaksa untuk berfikir. Misal tiba-tiba kamu diminta jadi narasumber atau pemantik diskusi dengan tema menggaet kader diera pandemi. Maka, pasti kamu akan berusaha berfikir sebisa mungkin mencari materi untuk diskusi tersebut, iyakan. Selain mengajak si narasumber berfikir mencari atau membuat materi. Nantinya juga akan mengajak orang lain yaitu para peserta untuk ikut juga berfikir, setelah mendengar penyampaian materi dari narasumber.
Okey, Itu ya. Manfaat pertama. Selanjutnya manfaat yang tak kalah penting. Yaitu didalam forum diskusi pastilah pesertanya tidak sama pola pikirnya. Artinya dalam menyimpulkan sesuatu akan berbeda. Sehingga jika ada suatu masalah maka penentuan solusi akan berbeda. Dengan begitu masalah yang kita punya namun solusinya belum ada yang pas, bisa jadi diforum itulsh ada salah satu pendapat yang merupakan solusi yang tepat. Benar buka? Itu dia manfaat diskusi untuk mencari solusi.
Harapanku, sebuah diskusi tidak berhenti hanya disebuah jawaban teori dari narasumber. Namun ada action dari jawaban tersebut. Tapi itu nomor dua saja. Yang penting organisasiku ada detak jantung kegiatan yang semoga saja membawa perubahan ke yang lain. Khusunya yang belum aktif agar aktif. Khirunnas anfa’uhum linnas
Penulis : M.Misbachul Munir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar