Minggu, 26 Juli 2020

Antara Kuantitas dan Kualitas

Assalamu’alaikum wr wb

Selamat datang temen-temen pembaca di blog PAKPT IPNU IPPNU Gusdur. Terimakasih sudah menyempatkan waktunya buat membuka blog ini dan syukur-syukur mau membacanya sampai selesai. Semoga saja ada pengaruh baik bagi pikiran teman-teman pembaca semua.


Kali ini kita mau ngomongin tentang “Kuantitas dan Kualitas”. Pasti temen-temen sudah tahu apa itu kuantitas dan kualitas ya. Kalau belum tahu coba searching di Google saja. 


Pernah nggak sih, temen-temen  sebagai anak organisasi berfikir bahwa sebuah organisasi yang mengedepankan kualitas itu akan lebih baik jadinya dibanding dengan organisasi yang mengedepankan kuantitas? Kalau pernah, berarti sama denganku. Bahkan aku pernah berfikir kalau MU alias Perserikatan Muhammadiyah itu lebih baik dibanding dengan NU atau Nahdhotul Ulama’. Kenapa sampai berfikir seperti itu? Karena menurutku buat apa coba, banyak anggota tapi anggotanya kurang aktif. Kan percuma gitu, ngapain merekrut banyak anggota tapi tidak berpengaruh ke organisasi. Lebih baikkan satu atau dua orang, tapi loyalitas, totalitas dan integritasnya tinggi. Bener nggak temen-temen?. Kita juga pasti tahu tentunya, kalau satu amal ikhlas itu jauh lebih baik dibanding 1000 amal tapi tidak ikhlas. Dan hal lain lagi yang nunjukin kalau kualitas memang harus diutamakan.


Tapi temen-temen, ada yang perlu kita tahu tentang kuantitas dan kualitas tadi. Biar pikiran kita nggak berfikir cuma sampai dipemikiran tadi. Disalah satu Stadium General yang ngomongin tentang membuat karya  tulis yang inspiratif, salah satu pembicaranya mengkisahkan sebuah cerita yang membuka pikiranku. Kisahnya seperti ini.


Ada seorang dosen fotografer asal Amerika Serikat yang mengampu sebuah kelas di sebuah Universitas. Si dosen ini membagi mahasiswa kelasnya menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama ditugasi untuk mengumpukan tugas berupa hasil jepretan sebanyak-banyaknya. Artinya kualitas tidak dipertimbangkan. Yang dipertimbangkan adalah jumlah. Semakin banyak foto yang dikumpulkan maka semakin tinggi pula nilai akhirnya. Kita sebut saja kelompok kuantias. Sedangkan kelompok kedua ditugasi untuk mengumpulkan hasil jepretan cukup satu saja namun dengan kualitas yang paling baik. Artinya jumlah foto yang dikumpulkan tidak mempengaruhi nilai akhir. Kelompok ini kita sebut saja kelompok kualitas.


Kuliah berjalan dengan normal, dosen memberikan materi kemudian didiskusikan dan seterusnya. Singkat cerita, satu semesters hampir selesai. Saatnya pengumpulan tugas akhir. Kelompok kuantitas mengumpulkan hasil jepretanya yang jumlahnya sampai ratusan. Sedangkan kelompok kualitas mengumpulkan satu foto dengan kualitas terbaik menurut mereka masing-masing.


Tibalah waktunya untuk penilaian. Si dosen melihat-lihat hasil foto dari para mahasiswanya. Sungguh sangat mengejutkan. Ketika si dosen ini mencoba mencari foto yang kualitasnya paling baik. Justru foto tersebut berada di tumpukan foto kelompok kuantitas. Bukan kelompok kualitas. Padahal harusnya kelompok kualitaslah yang mengumpulkan foto dengan kualitas hasil jepretan paling baik. Tapi ternyata tidak. Kenapa bisa begitu? 


Jadi begini, mahasiswa dari kelompok kuantitas akan mencoba berkali-kali untuk menjepret gambar dari kameranya. Sehingga dari setiap hasil jepretannya itu, ia bisa mengevaluasi hasil fotonya. Dengan begitu ketika ia menjepret gambar lagi, hasilnya akan lebih baik dari sebelumnya. Artinya secara tidak langsung dengan ia banyak menjepret ternyata itu melatih dirinya untuk menjepret dengan kualitas yang selalu meningkat. Meskipun fokusnya dia adalah ke jumlah fotonya alias kuantitasnya bukan kualitas.


Berbeda dengan kelompok kualitas. Kelompok kualitas akan berusaha sekuat tenaga untuk menjepret dengan semua teori yang mereka pelajari di kelas. Namun sedikit jumlah jepretan yang mereka  ambil. Mereka sudah merasa bahwa jepretan-jepretannya adalah jepretan yang terbaik. Karena secara teori jepretan mereka sudah sesuai. Pada akhirnya jutru kelompok kuantitaslah yang memiliki jepretan terbaik. Karena mereka belajar sambil mencoba. Sedangkan kelompok kualitas terlalu banyak berteori namun sedikit berusaha.


Sekarang, kita coba tarik ke pembahasan amal ya. Kita pasti tahu bahwa satu amal ikhlas lebih baik dibanding 1000 amal tapi tidak ikhlas. Kalau kurang yakin, coba deh searching google. Sudah yakin ya. Okey, kita lanjut lagi. Misalnya kita sedang jum’atan, lewat tuh kotak amal didepan kita. Kebetulan disaku baju ada 20 ribu rupiah. Pas mau ambil uangnya, terbesit dihati merasa kurang ikhlas. Pertanyaanya, manakah yang lebih baik? Kita nggak nyinggung sampai ke hal-hal kebutuhan dan lain lain ya. Kita fokus ke ikhlas dan tidak ikhlas aja. Mana yang lebih baik? Amal 20 ribu tapi tidak ikhlas. Atau nggak usah ngamal aja, dari pada ngamal tapi sia-sia?.


Nah, temen-temen dapat kita samakan sebagaimana hasil foto terbaik tadi. Untuk mendapatkan hasil terbaik maka perlu banyak percobaan, tidak cukup satu atau dua kali. Tapi butuh berkali-kali bahkan sampai seratus, kalau perlu seribu amal. Kesimpulannya, untuk memperoleh amal ikhlas itu nggak cukup dengan satu kali amal. Dengan cara kita milih-milih kapan kita bisa ikhlas. Tapi kita perlu berbkali-kali beramal sampai akhirnya salah satu dari amalan kita itu ada yang terhitung ikhlas. Makanya ada perintah untuk tidak meremehkan amal sekecil apapun. Wa mayya’mal mitsqoola dzarrotin khoiroyyaroh. Barang siapa beramal maski sekecil biji dzarroh maka ia akan melihat balasannya.


Dari kisah tadi dan gambaran tentang amal barusan. Mulailah kebuka pikiranku bahwa kuantitas tidak bisa diremehkan begitu saja. Dengan begitu pemikiran bahwa MU lebih baik dari NU karena NU mengedepankan kuantitas telah terevisi. Kemungkinan besar dari anggota NU yang begitu banyaknya akan mucul bibit-bibit yang unggulnya melebihi bibit dari MU. Kesimpulan terkahirnya, antara kuantitas maupun kualitas jangan ada yang dikesampingkan. Sekian.


Wassalamu’alaikum wr wb

Selamat belajar berjuang bertaqwa




Penulis : Muhammad Misbachul Munir 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Macam-macam Mahasiswa

 Sebagai golongan manusia, mahasiswa memiliki karakter yang berbeda-beda. Mereka tumbuh dilingkungan berbeda, mereka belajar dilingkungan be...